|
Bukit Tersedu Bukit-bukit tanpa tersedu burung tiba di puisi suaraku tak kencang menyebut hari tenggelam dengan parau Kucicip sendiri yang berkabut rabu pikiran tanpa warna langit Tak tertusuk wicara dedaun keindahan melambai mengokohkan azalinya Sepasang mata terlipat lantas lingkaran-lingkaran burai seperti cari lirih seseorang di bawah warna senja yang sayup 2008
Pada Angin Pada angin yang terbakar semu sukmaku sebuah tangan tak selesai tak akan selesai Seseorang berselimut di tepi kemarau yang minimum Hembus hitam di ujung minggu balada bunyi jam tengah malam Itu sebabnya api hancur menutup pori-pori lantai Itu sebabnya pintu gugup terbuka dan tertutup Itu sebabnya kata-kataku 2008 Kilau Kesunyian Betapa kesunyian berkilau bahkan melebihi api syair meleleh menerobos mendung dan bunga-bunga sebagai tertimbun lara Dengarku berayun ringan bagai gelembung-gelembung pagi alangkah tertulis paras setia jika tidak adalah puisi dan merekah semuanya 2008 Di Sebuah Gubuk Hanya seorang pria tua yang berbicara dari kemurungannya Hanya ruang mengapung yang disusupi detik-detik berderai Aku hanya bisa melihat Kesendirian menyebar memenuhi penjuru-penjuru hutan 2008 Tulisan Sepi Ternyata aku sekedar menulis sepi Dan kelak itu hanya batu-batu berderak yang tumpah dari tembok Saat wajah terasa berat 2008 Patung Luka Bayang jauh segalanya puisi Hembus ngeri bergerincing di tembok Buku-buku sahabat kelu cerita dan nyanyian mungil Selalu kata tak bisa maklum untuk sesekali hilang menjadi bukan sepi Malam terluka. Takut menari. Zahirku lintasi bisikan-bisikan sangsi Panorama ganda Ingin kutulis atau kubaca Dampar memasungku Kupeluk namamu ibu 2007-2008 Kututuri Kata Kututuri kata dengan sunyi matahari Sunyi liang kali Kututuri kata dengan gema angin merah yang menghiasi tepi-tepi sabit menjelang subuh Tari kataku luka yang menjelma mata Bisik bersama rerumput di suatu gunung Langkah terselubung saat hutan-hutan terpejam 2007-2008 Mukhlis Zya Aufa. Lahir di Sumenep Madura, 4 April 1983. Puisi-puisinya dimuat di majalah Horison, Kompas, Solopos, Suara Pembaruan. e mail:
This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
|