Agenda Terbaru

Sajak-Sajak Mukhlis Zya Aufa PDF E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

Bukit Tersedu

 

Bukit-bukit tanpa tersedu burung

tiba di puisi

suaraku tak kencang

menyebut hari tenggelam

dengan parau

 

Kucicip

sendiri yang berkabut rabu

pikiran tanpa warna langit

 

Tak tertusuk wicara

dedaun keindahan

melambai mengokohkan azalinya

 

Sepasang mata terlipat

lantas lingkaran-lingkaran burai

seperti cari lirih seseorang

di bawah warna senja yang sayup

 

2008 

 


 

 

 

Pada Angin

 

Pada angin yang terbakar semu sukmaku

sebuah tangan tak selesai

tak akan selesai

 

Seseorang berselimut

di tepi kemarau yang minimum

 

Hembus hitam di ujung minggu

balada

bunyi jam tengah malam

 

Itu sebabnya

api hancur

menutup pori-pori lantai

 

Itu sebabnya

pintu gugup terbuka dan tertutup

 

Itu sebabnya 

kata-kataku

 

2008 

 

 

 

 

 

Kilau Kesunyian

 

Betapa kesunyian berkilau

bahkan melebihi api

syair meleleh

menerobos mendung

dan bunga-bunga sebagai tertimbun lara

 

Dengarku berayun

ringan bagai gelembung-gelembung pagi

alangkah tertulis paras setia

jika tidak adalah puisi dan merekah semuanya

 

2008

 

 

                       

 

 

Di Sebuah Gubuk

 

Hanya seorang pria tua

yang berbicara dari kemurungannya

 

Hanya ruang mengapung

yang disusupi detik-detik berderai

 

Aku hanya bisa melihat

 

Kesendirian menyebar

memenuhi penjuru-penjuru hutan

 

2008

 

 

 

 

 

Tulisan Sepi

 

Ternyata aku sekedar menulis sepi

 

Dan kelak

itu hanya batu-batu berderak

yang tumpah dari tembok

 

Saat wajah terasa berat

 

2008

 

 

 

 

 

Patung Luka

 

Bayang jauh

segalanya puisi

 

Hembus ngeri bergerincing di tembok

 

Buku-buku sahabat kelu

cerita

dan nyanyian mungil

 

Selalu kata

tak bisa maklum

untuk sesekali hilang

menjadi bukan sepi

 

Malam terluka.

 

Takut menari.

 

Zahirku

lintasi bisikan-bisikan sangsi

 

Panorama ganda

 

Ingin kutulis

atau kubaca

 

Dampar memasungku

 

Kupeluk namamu ibu

 

2007-2008

 

 

 

 

 

Kututuri Kata

 

Kututuri kata

dengan sunyi matahari

 

Sunyi liang kali

 

Kututuri kata

dengan gema angin merah

yang menghiasi tepi-tepi sabit

menjelang subuh

 

Tari kataku

luka yang menjelma mata

 

Bisik bersama rerumput di suatu gunung

 

Langkah terselubung

saat hutan-hutan terpejam

 

2007-2008

  

 

Mukhlis Zya Aufa. Lahir di Sumenep Madura, 4 April 1983. Puisi-puisinya dimuat di majalah Horison, Kompas, Solopos, Suara Pembaruan. e mail: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

Only registered users can write comments!
+/- Comments
Search

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 24 April 2009 03:36 )