Agenda Terbaru

NIGHTMARE PDF E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

Siapapun pernah mengalami Mimpi buruk, dan beberapa orang akan terpengaruh untuk selamat dari apa yang terjadi dalam Mimpi buruknya.

Ketika Fir’aun bermimpi akan lahir seorang lelaki yang kelak dewasa akan menenggelamkan kekuasaannya, serta-merta ia mengalami perasaan takut yang kuat. Bagaimana tidak, kerajaan yang dititahnya sedang mengalami masa keemasan dengan rakyat yang demikian loyal kepadanya akan melahirkan seorang pemberontak dan oposisi. Lama berpikir tentang Mimpi buruk (minimal bagi Fir’aun sendiri) tentang runtuhnya kerajaan sebab seorang bayi laki-laki itu tidak membuatnya semakin obyektif, malahan timbul rasa takut. Seorang pemangku kerajaan yang tidak pernah gentar menghadapi musuh balatentara yang besar di medan perang sedang menghadapi perang melawan rasa takut sebab mimpi buruk. Ongkos yang diperlukan demi mengalahkan rasa takut sang Raja adalah pengerahan seluruh intel kerajaan untuk mencari dan membunuh anak laki-laki yang lahir dari rahim rakyatnya. Disebarlah pengumuman bahwa Raja Fir’aun anti dengan anak laki-laki, karenanya setiap anak laki-laki yang lahir setelah pengumuman ini akan dibunuh (kira-kira pamfletnya demikian).

Secara konvensional, mimpi yang menyebabkan pemimpinya takut disebut mimpi buruk. Ketakutan ini paling tidak disebabkan oleh sebuah tragedi yang terjadi dalam mimpi, dan pemimpinya terlibat dalam tragedi itu secara langsung. Namun mimpi yang demikian, bagi beberapa orang tidak membuat rasa takutnya berlarut hingga pemimpinya sadar. Adapula sebuah mimpi (tidak selalu tragedi) yang ketika ditafsiri akan membuat takut pemimpinya meski ia sadar tidak tidur. Mimpi Fir’aun di atas adalah contoh mimpi buruk yang membawa ketakutan hingga pemimpinya sadar dari tidur.

Siapapun manusia pernah mengalami mimpi buruk yang menyebabkan ia dicekam takut. Sebagian orang merasa aman setelah sadar bahwa tragedi itu tervisual dalam mimpi, namun sebagian orang lainnya membawa ketakutannya hingga keluar dari alam mimpi. Dengan kata lain, sebuah mimpipun dapat mempengaruhi manusia merasa takut. Hal ini membuktikan bahwa perasaan takut manusialah yang dominan membutuhkan alasan untuk kemunculannya. Kemunculan rasa takut manusia seringkali tidak membutuhkan kejadian yang empiris dan rasional, mimpipun sudah cukup untuk menjadi alasan dan penyebab rasa takut itu muncul.

Banyak tragedi terjadi (dan atau seolah-olah terjadi dalam ide pikiran) saat kita terjaga namun seperti mimpi buruk yang membuat takut. Seperti mimpi di sini dapat dikalkulasikan dengan indikator bahwa tragedi itu disosialisasikan dan diintrodusir secara a priori. Tragedi itu juga tidak diketahui secara menyeluruh, namun telah bergerak lebih cepat untuk menjadi sebuah diskursus dan agenda manusia untuk menyelamatkan diri. Hal ini wajar jika manusianya menyadari bahwa ia seringkali ingin menjadi informan pertama tentang sebuah tragedi yang nyata maupun tragedi dalam sebuah ide. Hingga informasi yang belum diketahui sebab-musabab dan semua tetek-bengek-nya menjadi tidak lebih penting daripada ekspresi reaksioner sang informan.

Buku karya Samuel P. Huntington berjudul Class of Civilization dapat menjadi semacam mimpi buruk setelah perang dingin bagi beberapa orang. Ambil contoh negara Indonesia yang menanggapi prediksi-prediksi dalam buku ini seolah mimpi buruk yang akan menjadi kenyataan. Hingga, penting kiranya untuk membuat Undang-undang, mengalokasikan APBN, dan seminar demi mengantisipasi prediksi-presiksi buruk dalam buku ini. Bila kita rangkai ulang beberapa aktifitas negara yang demikian adalah dimotivasi oleh sebuah prediksi buruk yang ditanggapi secara a priori dan instan laiknya mimpi.

Mimpi buruk bagi sebuah bangsa adalah kehancurannya. Mimpi buruk ini akan memotivasi bangsa tersebut untuk menyelamatkan diri dari ancaman kehancuran. Kehancuran sebuah bangsa dapat berbentuk penjajahan oleh bangsa lain, dapat pula perpecahan di dalam. Layaknya mimpi, kehancuran ini mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi. Sejauh antisipasi atas datangnya kehancuran itu maksimal dilakukan, maka semakin jauhlah bangsa tersebut dari apa yang ia takutkan. Mimpi buruk rezim Orde Baru Indonesia akan terjadinya perpecahan dan oposisi memotivasi dan mendasari banyak kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan untuk menundukkan rakyatnya.

Mayoritas tokoh agama mensosialisasikan ajaran agamanya dengan motif mimpi buruk. Adanya ancaman bagi pelanggaran yang dilakukan manusia adalah semacam mimpi buruk yang menjadi motivasi untuk menghindar dan meninggalkan perbuatan yang dilarang agama. Namun demikian, tokoh agama melengkapi motivasinya dengan harapan atau mimpi indah tentang pahala atas perintah agama yang dilaksanakan. Dalam agama penulis, konsep ini dikenal dengan istilah Khauf dan Raja’. Menjauhi larangan-Nya sebab Khauf : takut akan balasan berupa siksa yang pedih di neraka, serta melakukan perintah agama sebab Raja’: mengharap akan surga. Keduanya memiliki hubungan yang relasional timbal balik. Namun, penulis menganggap konsep yang disosialisasikan oleh tokoh agama ini hanya sebuah trend yang sedang populis dilakukan.

Manusia memiliki perbedaan tentang apa yang baginya adalah mimpi buruk. Meski demikian, telah terdapat penafsiran terhadap mimpi sebagai usaha obyektifikasi dan pemilahan antara yang buruk dan baik secara konvensional. Contoh perbedaan tanggapan negara Indonesia dengan Cina mengenai buku prediksi karya S. P. Huntington. Usaha penafsiran atas mimpi buruk ini adalah kebijakan Anti-Terorisme oleh pemerintah Indonesia sebagai tafsir dari buku S. P. Huntington yang dianggapnya sebagai mimpi buruk. Namun berbeda dengan Cina yang tidak menganggap buku ini seperti mimpi buruk. Lebih daripada itu, meski manusia berbeda persepsi atas mimpi yang buruk baginya, siapapun merasa takut apa yang dianggapnya mimpi buruk akan menjadi nyata.

Pada pengertian inilah mimpi buruk akan mengakibatkan ketakutan dan memotivasi pemimpinya untuk melakukan usaha penyelamatan diri. Seringkali usaha penyelamatan diri ini akan membawa pada tindakan-tindakan yang perlu dipahami. Tindakan itu antara lain adalah; Pertama, tindakan reaksioner, tidak bi al-wadh’i[1]. Karena berdasar pada prediksi, ramalan, dan tafsir yang subyektif, tentu tindakan yang dihasilkan adalah semu dan permukaan. Berbeda halnya dengan orang yang bergerak karena mimpi indah dan mengharap sesuatu terjadi di masa depannya, maka ia akan merumuskan strategi-taktik, dan waktu yang cermat untuk meraih apa yang menjadi tujuannya. Semua tindakannya tidak dalam menyikapi apa yang terjadi di luar sebagai ancaman, namun ialah yang seringkali mengancam terlebih dahulu.

Kedua, tindakan dalam rangka menjawab pertanyaan bagaimana selamat dari sesuatu yang ditakutkan akan menggerakkan manusianya dalam pola yang bertahan. Contohnya adalah negara yang terus mimpi buruk akan datangnya peperangan fisik dengan negara lain, maka APBN untuk alokasi militer tetap dibutuhkan di dunia yang telah berulangkali terjadi perang. Berbeda halnya bila sebuah negara bergerak karena mimpi indah dan mengharap sesuatu terjadi di masa depan, maka ia akan melakukan tindakan dengan pola menyerang. Dalam militerisme, negara Amerika mencontohkan pola kendali militer yang menyerang. Di Amerika, dengan alasan apapun APBN untuk militer harus menghasilkan sesuatu dan memiliki target perang yang jelas seperti (atas nama) perdamaian, demokratisasi, perjanjian internasional, minyak dan lain sebagainya.

Ketiga, non-cooperative. Demi menyelamatkan dari apa yang ditakuti, pola cooperatif dengan apa yang menjadi ancaman adalah sebuah tindakan pelacuran dan perselingkuhan. Kurawa dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan tanpa kompromi oleh Pandawa. Padahal dalam relasi sebab-akibat, Kurawa adalah tokoh antagonis yang mengantarkan Pandawa menjadi pahlawan. Dengan demikian, pola non-cooperative adalah mempertahankan kawan dan lawan secara mutlak terpisah, bukan dimodifikasi, meski banyak orang menyeberang dan kembali sesuai keadaan.

 

Indiego Nusa Antara

Pengen gemuk


[1] Bi al-wadh’i artinya secara sadar, tidak mengigau.
Only registered users can write comments!
+/- Comments
Search

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Tuesday, 07 July 2009 19:53 )